Menikmati matahari terbit dari Gunung Bromo, yang kebetulan saat itu sedang mendung tapi tak mengurangi indahnya . Dilanjutkan menikmati sus coklat karena dingin telah mulai menusuk tulang.
Mengabadikan cerita dari kakak tertua
Hari ini 26 April 2019 adalah hari pernikahannya. Dua keluarga akan menjadi satu, kami menyambutnya dengan penuh suka cita. Senyum mengembang, tangis bahagia dan doa mengiringimu mempersunting kekasih hatimu. Hingga tua nanti, berbahagialah . Dari, adik sepupumu .
Hari kelima, hari sebelum kami pulang kerumah. Kami diajak ke salah satu destinasi yang wajib dikunjungi ketika liburan ke Banjarmasin. Apa itu ? Yap.. Pasar terapung. Saat itu kami berkesempatan untuk mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan . Jarak dari penginapan menuju pasar terapung sekitar satu jam naik Kapal Klotok. Kami berangkat dari penginapan sekitar jam 05.30 (memang sedikit kesiangan), kemudian berjalan menuju dermaga untuk naik kapal klotok. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang memanjakan mata (mungkin hanya aku doang yang ngrasa gitu), dan dipertengahan perjalanan hujan turun . Yahhhh .. Berharap sampai lokasi hujan reda, tapi kenyataannya tambah deras. Meski hujan, masih banyak pedagang yang mendekati kapal kami untuk menawarkan dagangannya. Ada yang jual sayur, buah, tas anyaman dan masih banyak lagi. Saat itu aku membeli beberapa buah - buahan. Setelah berbelanja sedikit kami pun pulang, dan tak lupa mampir makan di Warung Soto Pak Amat. Soto Banjar Pak Amat ini terkenal akan cita rasanya yang enak dan tempatnya yang nyaman karena dipinggir sungai. Jadi, bisa makan soto dan menikmati pemandangan tepi sungai deh . Eitss bagi kalian yang gak suka soto ada menu sate ayam juga kok . Tenang.. harganya pun juga gak terlalu mahal, masih masuk akal lah . So, selamat mencoba yaa.
Aku mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi MI/MTS Al-Mujahiddin pada hari ketiga Gathering Nasional Turun Tangan . Perjalanan dari tempat kami menginap kira-kira satu jam, tidak terlalu jauh sepertinya. Kami berangkat kira-kira pukul 09.00 (agak lupa tepatnya jam berapa), dari tempat penginapan kami naik angkot (yang kebetulan sudah disewa oleh panitia) menuju dermaga. Ditengah perjalanan, ban angkot yan saya tumpangi kempes (jangan-jangan karena kelebihan muatan) perlu waktu beberapa menit untuk mengantinya. Beruntung ada teman Pak Sopir yang datang dan membantu. Setalah ban mobil siap, mari lanjutkan perjalanan. Sesampainya di dermaga Feri, kami pun menunggu kapal Feri datang. Mereka datang sekitar 15 menit sekali, dan yapp kapal feri datang (tak seperti kapal feri yang aku bayangkan). Kami pun masuk dan mencari tempat duduk, kebetulan saat itu penuh dengan penumpang. Kami harus berdesakan antar penumpang dengan sepeda motor bahkan ada hewan ternak juga. Kami pun berangkat menyusuri sungai. Deg-degan, sempat bertanya ke peserta lain apakah ada buaya disini ? (saking parnonya). Sepanjang jalan, aku memandang kapal kapal dan tongkang pengangkut batubara yang silih berganti. Dalam hati, gila ya sedalam apa ini sungai. Diantara kapal kapal dan tongkang batubara, juga banyak masyarakat sekitar yang mencari penghidupan di sungai yang sama. Mereka mandi, mencuci, mungkin air yang sama digunakan untuk memasak. Hah, bayangkan jika sungai itu tercemar oleh limbah industri perusahaan-perusahaan besar, miris. Kami sampai namun perjalanan belum selesai, kami harus berjalan menuju sekolah kira-kira 10 menit dari dermaga. Sepanjang jalan, kami disuguhkan pemandangan yang tak biasa ku lihat yaitu rumah panggung (jarang lihat soalnya) . Dan yappp kami sampai .






















































